Senin, 21 April 2014

Cegah lebih baik daripada mengobati


Salam Kid's Parents
Apakah anda ciri orang tua yang takut membicarakan hal yang tabu kepada anak seperti seksualitas ? Bahasa apa yang cocok, atau sampai sejauh mana informasi tentang seksualitas harus diceritakan kepada anak.

Orangtua menganggap, untuk membicarakan seks dengan anak ketika dia telah dewasa, bahkan orang tua menyerahkan tanggung jawab itu kepada sekolah. Karena sebagian orangtua tidak tahu pengetahuan tentang seks. Padahal guru tidak bisa memberikan pendidikan seksualitas yang baik karena perhatiannya harus terbagi-bagi pada murid-murid yang lain.
Apakah anda bingung atau deg-degan, jikalau ditembak sejumlah pertanyaan dari anak anda tentang seks. Apa orangtua harus sekolah tinggi2 untuk mempelajari tentang seks ?, ada baik juga !! tapi tidak perlu, ada cara yang sederhana bagaimana kita bisa menjelaskan pendidikan seks kepada anak anda. Program2 pemerintah seperti poster tentang Say no to Sex dsb, bagi saya itu kurang efektif. Orang tua memainkan peranan penting dalam pendidikan seks kepada anak. Karena pendidikan seks dilakukan secara bertahap, bahkan sejak anak lahir.
Mengapa saya kata demikian ? karena sejumlah fakta di Indonesia, telah membuktikan, anak2 laki usia (6-8th) kebiasaan ketika mandi bersama suka bermain dengan alat kelaminnya bahkan saat buang air kecil dsb. Orangtua tak perlu takut jika melihat tingkah laku anak seperti itu. Tapi disini butuh pendekatan, dan kapan kita membicarakan soal seks kepada ? jawabannya kapan saja dan dimana saja dan harus dengan bijaksana membicarakan hal ini kepada anak. Untuk itu mari kita baca dengan seksama seputar kasus ini. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati


Amsal 16 : 23 “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat menyakinkan”

Kapan Saja Bicara Seks pada Anak

Kebingungan orangtua wajar, mengingat masa kecilnyapun, banyak orangtua yang tidak mendapat pendidikan seks dari orangtua mereka. Budaya tabu membuat pendidikan seks tidak pernah disentuh pada zaman dulu. Karena itu ajarkan seks yang benar kepada anak anda. Anda tidak usah panik, dan membentak anak yang sedang memainkan alat genitalnya. Cukup terangkan bahwa itu perbuatan tidak baik. Jadi orang tua paling tidak harus tahu informasi2 tentang seks.

Apa yang sebaiknya kita lakukan ?

    Kesempatan emas yang bisa didapatkan misalkan bila anak melihat seorang ibu sedang menyusu bayinya. Dari pemandangan itu, orangtua bisa
menjelaskan mengapa perempuan mempunyai payudara yang besar, karena suatu saat berisi susu yang penting bagi bayi akan kesehatan tubuh bayi.
       Orangtua juga bisa memakai kesempatan mandi atau keramas rambut anak. “Orangtua dapat bilang pada anak, dulu waktu kecil, kamu tidak punya rambut. Sekarang kamu sudah besar; rambutmu sudah banyak ya. Kalau kamu lebih besar lagi, akan tumbuh rambut-rambut lain di ketiak dan di alat kelamin. Kalau anak laki-laki juga tumbuh jenggot dan kumis. Lihat saja ayah. Ayah sudah besar maka berkumis,”
       Pada tahap bayi berumur 0-18 bulan, bayi harus mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini menjadi penting bagi perkembangan emosinya. Anak juga diajar kebersihan tubuh seperti mandi, basuh, dan kesehatan.” Usia 18 – 3 th (rasa ingin tahu), anak harus dijelaskan alat kelaminnya. Contoh : anak senang membersihkan telinganya menggunakan cotton bud. Jelaskan pada anak mengorek-ngorek kuping itu memang enak tetapi kalau tidak hati-hati bisa lecet. Contoh lain : saat ibu dan anak sedang bersama dan melihat cicak lagi kawin. Jelaskan : “lihat tu cicak sedang kawin supaya mereka bisa mendapat keturunan atau anak.

Cara Membuat Widget Sosial Media Di Sidebar Blog | CERITA NGEBLOG

Cara Membuat Widget Sosial Media Di Sidebar Blog | CERITA NGEBLOG

Minggu, 20 April 2014

KIDS' PARENTING



Salam Kids’ Parents

Bagi sebagian orangtua pasti mengharapkan yang terbaik dari anaknya, walaupun tak mengerti bagaimana cara yang tepat dalam memotivasi anak supaya bakat / kelebihan anak dapat tereskpos.

Orangtua seringkali mengalami kewalahan dalam mengatasi anaknya yang malas belajar, nilai rapor selalu merah, masalah disekolah dan sebagainya. Bahkan orangtua tidak segan-segan membanding-membandingkan anaknya dengan anak orang lain, contoh, kata mama kepada anak yang dibandingkan “Lihat tu teman kamu, tetangga kita, lebih pintar dari kamu, anak baik, kalo kamu, sudah malas kaya kerbo, bodoh lagi, coba beta jangan kasih lahir lu ne, hanya buat beta susah sa”. Dipikirnya dengan perbandingan itu, membuat anak termotivasi untuk menjadi seperti atau malah lebih dari orang yang dibandingkan.

Secara tidak sadar, anak yang menjadi korban perbandingan akan minder karena merasa dirinya tak berarti.

Apakah cara perbandingan baik digunakan sebagai metode orang tua dalam memotivasi anaknya ? jawabannya : tidak.  Untuk itu, lebih jelas lagi, mari yukk, kita bahas sama-sama masalah diatas, cara apa yang tepat supaya kita mengatasi masalah tersebut.

Selamat membaca…Tuhan Yesus Memberkati

            Source by : Psikologi Anak

Membandingkan-Bandingkan Anak

Dampak anak  korban perbandingan orangtua sesuai tingkat usia anak  :
Bayi : Sulit Percaya (0-1 th)
Meski bayi belum dapat berbicara, tetapi ia dapat mendengar dan menangkap sinyal emosi orangtuanya saat melakukan perbandingan, ini  membuat bayi merasa tidak nyaman, dan selanjutnya ia akan sulit mengembangkan rasa percaya terhadap orangtuanya.
Batita : Ragu dan Malu (2-3 th)
Anak usia ini sedang mengembangkan kemandirian. Apabila batita selalu dibanding-bandingkan. Akibatnya menjadi malu dan takut menampilkan potensi dirinya dan kemandiriannya pun sulit dibentuk.
Pra Sekolah : Inisiatif Tak Berkembang (4-5 th)
Anak akan merasa bersalah, karena apa yang dilakukannya dipadamkan oleh orangtuanya.
Usia 6- 8 th : Rendah Diri
Anak usia selalu berkarya dengan cara2 yang unik, jika karyanya selalu dibandingkan  maka rasa minder menghambat karyanya.
Usia 9-12 th : Makin Minder
Rasa rendah dirinya akan melebar ke berbagai aspek lainnya. Kreativitas akan terhambat, karna selalu dibandingkan oleh orangtuanya
Apa yang sebaiknya kita lakukan ?
Orang tua harus terlebih dahulu mengenal bakat masing-masing anak, bukan malah membanding-bandingkan. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap anak. Berilah pujian jika anak melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya beritahu yang benar tanpa menghukum jika anak melakukan kesalahan. Contoh : “oke mama, akan bantu kamu cara kerja matematikanya, mama akan beli bukunya serta alat hitung supaya nilai matematikamu baik, anakku pasti bisa mendapat nilai matematika yang baik.
Jangan membandingkan !!. Anak akan sadar bahwa ia belum sepenuhnya sempurna dan masih perlu terus mengembangkan dirinya.

By : Astian Leba (Mahasiswa PAK)